Diriku Anak Singkong.
Aku terlahir sekitar tahun 60 an, dimasa orde baru. Bapak mamakku berasal dari Jogjakarta, Gunung Kidul daerah tandus yang tanahnya bebatuan padas.
Makan seadanya , hidup seadanya ,mandi disungai ,pondok papan,penerangan lampu setir ,dirumah bersama kakak karena orang tua nginap di ladang atau kebun menunggui tanamannya.
Orang tuaku seorang transmigrasi yang ditempatkan di Jayaloka,yang kala itu masih hutan rimba jauh dari kesenangan,kemewaan apalagi pendidikan.
Aku lahir sebagai anak transmigran yang bercita-cita pengen sekolah, padahal saat itu jangankan sekolah hidup cuma pas-pasan bisa makan dari hasil kebun terutama singkong.Singkong adalah makanan utama sedari dari gunung kidul jokyakarta.
DI sumatrapun masih menjadi makanan utama gaplek dibuat menjadi nasi tiwul namanya ,yang rasanya enak bagi aku tetapi
Tetepi kalau soal nilai gizi jangan ditanya jelas ,sangat kurang dibanding nasi.
Itulah kehidupan masa kecilku yang takterlupakan dan kan jadi kenangan disepanjang hidupku,untuk cerita masalalu
dengan anak cucuku.
Kala itu dikecamatan tempat tinggalku hanya ada satu sekolah swasta persit,sokolah tidak pakai seragam,tidak pakai sepatu dan lumayan jauh jalan kaki dengan suasana sepi sepanjang jalan hutan semak belukar.
Tetapi tidak tau kenapa aku yang hanya anak desa anak orang gak punya pengen sekolah tidak hanya tamat SD padahal aku tau di daerahku hanya ada sekolah sd,kalau pengen melanjutkan harus kekota,yang pada waktu itu jarak tempu sampe dua atau tiga hari dengan jalan kaki kemudian naik truk.
Aku mengutarakan kepada kedua orang tuaku bapak ,mamak aku ingin sekolah .
Kamu ingin sekolah..,bapak tidak bisa ndok untuk makan saja harus makan tiwul kok mau sekolah ,dua kakakmu tamat sd trus bantu bapak di ladang dua adikmu juga masih harus dihidupi.
Suatu malam bapak berkata bener kamu pengen sekolah ndok kalau ingin sekolah
kalau iya bisa tetapi bapak titipkan ke paklekmu dijawa,aku pun menyetujui yang penting aku bisa sekolah.
Setelah kenaikan kelas aku diantar kejawa di sebuah desa pinggir laut.
Pamanku seorang guru SD dengan tiga anak yang masih sekolah ,ketika itu keadan pamanku juga gak jauh beda dengan kami di sumatra hanya bedanya di jawa ada sekolah lanjutkan.
Sesampainya dirumah paman hampir aku nyerah ingin ikut balek lagi ke Sumatra lagi tapi setelah dibujuk akhirnya aku mau sekolah di Jawa.
Rupanya keadaan dijawa juga tak seindah yang kubayangkan tau sendiri berapalah gaji seorang guru pada tahun delapan puluhan dulu,dengan anggota 6 orang mana cukup,apalagi bibiku tidak bekerja.
Untuk mencukupi kebutuhan kami sekeluarga bibiku jualan disekolah tempat pamanku mengajar.
Di pagi hari sementara anak-anak masih tidur nyenyak aku sudah harus bangun menyiapkan apa apa yang akan dimasak untuk jualan pagi hari.Ketika mau sekolah harus mengantarkan jualan kesekolah dengan jalan kaki,maklum pamanku tidak punya kendaraan rumahnya juga masih ngontrak,tetapi walau demikian semya anaknya tetap sekolah.
Hari berganti hari bulan berganti bulan tahunpun berganti tahun akhirnya tamat juga
aku SMP ,dan ketika aku ditanya aku ingin melanjutkan ke SPG ketika itu anak-anak lain
Ke SMA karena mereka tau jadi guru tidak menjanjikan hudup layak,tapi kala itu aku cuna berpikir tamat spg bisa langsung kerja jadi guru karena kalau harus kuliah jelas tak ada biaya.
Lepas SPG aku kembali ke jayaloka dan kebetulan ditempatku sudah ada sd negeri
dan akupun mulai mengabdikan diriku sampe sekarang.
Pada waktu itu untuk jadi pns masih mudah
dan gaji pns guru kala itu juga masih kecil alias pas pasan cuma ada untungnya dapet beras bulok jadi untuk beras kami gak sah pusing tinggal pusing mengatur uang gaji untuk yang lain.
Alhamdullilah berkat gaji guru yang kian hari kian merambat naik ditambah kesejahteraan pemerintah terhadap guru dengan adanya sertifikasi menambah semanggat anak -anak muda untuk jadi guru.
Berkad jadi guru juga menghantarkan kedua anakku kepetguruan tinggi menjadi sarjana,itulah impianku ingin melihat kedua anakku memakai toga.
Sesuatu yang dianggap gak bisa kalau kita mau dan niat dan gak menyerah dengan keadaan inssasllah bisa.
Contoh nyata ilmu baru dari pak susanto master blogger aku jadi punya blogger dan berani menulis walaupun masih amburdul gak karuan tetapi aku merasa senang dan asik,trimakasih ilmunya pak Susanto,stap panitia,PGRI,pak Johan dan bapak -bapak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
Tulisan ini saya tulis sebagai bentuk ucapan trimakasih kepada almarhum kedua orang tuaku,karena beliolah aku bisa hidup sampe sekarang dan bisa menyekolahkan cucu mereka walau mereka tidak bisa melihat di alam nyata tapi aku tahu dari alam sana kedua orang tuaku pasti senang .
Demikianlah tulisan ini ku buat bukan apa-apa hanya ingin berbagi karena aku sendiri masih binggung mau tulis apa.
Mohon kritik dan sarannya teman-teman ,mohon maaf kalau tidak berkenan .
Trimakasih,wassalammualaikum warohmattulloh wabarohkatuh.
Komentar
Terus semangat Ibu. Luar biasa perjuangannya.